❤ Pelajarilah Ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, Menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah Tasbih, mencarinya adalah Jihad, Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah Shadaqah, menyerahkan kepada ahlinya adalah Taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian ❤ – Muadz bin Jabal Radhiyyallahu anhu -

Wednesday, February 22

sesungguhnya islam yang akan datang adalah islam sunni salafi

SESUNGGUHNYA ISLAM YANG AKAN DATANG ADALAH ISLAM SUNNI SALAFI YANG MEMPERSATUKAN DAN TIDAK MEMECAH BELAH

OlehSyaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilali

salinan dari www.almanhaj.or.id

Kata Pengantar.Artikel ini, diambil dari kata sambutan Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, murid kepercayaan Syaikh Muhaddits Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam acara Ad-Daurah asy-Syariyah fi al-Masa'il al-'Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan di Ma'had Ali al-Irsyad Surabaya tanggal 15-18 Dzul Qa'dah 1421H, yang diprakarsai oleh Al-Ustadz Abdur Rahman at-Tamimi dan Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dibantu oleh beberapa da'i salafi lainnya.

Alhamdulillah daurah tersebut dihadiri dan diikuti tidak kurang dari empat ratusan da'i salafi dan penuntut ilmu di Indonesia.Kemudian, kata sambutan Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali sengaja kami salin ulang dalam website almanhaj dengan judul "Sesungguhnya Islam Yang Akan Datang Adalah Islam Sunni Salafi Yang Mempersatukan Tidak Memecah Belah", besar harapan kami, ini adalah sebuah nasehat yang dapat diambil manfaat dan faedahnya oleh kita semua._

Saudara-saudara, saudara-saudara yang tercinta ! Sesungguhnya ini betul-betul merupakan pertemuan mulia. Yaitu pada hari yang diberkahi ini, hari sayidul Ayyam, hari Jum'at, kami bertemu dengan saudara-saudara kami. Kami dikumpulkan dengan mereka oleh manhaj sunni salafi, manhaj yang mempersatukan dan tidak memecah belah, manhaj yang memperpadukan hati dan tidak menjadikannya berselisih.Oleh karena itu manhaj ini adalah manhaj Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Ahlu Sunnah, tidak mempunyai nama lain yang menjadikan mereka menonjol kecuali sunnah, tidak mempunyai bentuk lain yang menyebabkan mereka dikenal kecuali sunnah, dan .... (ada kata-kata yang terhapus..) kecuali dengan sunnah.

Hati-hati mereka bersatu di atas sunnah, hati-hati mereka mencintai sunnah. Mereka berjanji untuk membela Sunnah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.Ya, wahai saudara-sauadaraku, sesungguhnya kita berada di zaman asing. Ya, wahai saudara-saudara yang kucintai, sesungguhnya kita berada di zaman yang dekat, akan tetapi perkara itu tidak akan (dapat) berkata ....Sesungguhnya Islam pasti datang ... datang... dan datang. Islam pasti tersebar .... tersebar ... dan tersebar, seperti telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan telah dijanjikan di dalam Kitab-Nya, dan juga telah dijanjikan di dalam Sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mutawatir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai" [At-Taubah : 33]Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan dalam Kitab-Nya, bahwa Allah pasti memenangkan agama-Nya, pasti membenarkan nabi-Nya, pasti memenangkan golongan-Nya dan pasti akan menjadikan orang yang berjalan pada manhaj Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Khalifah/penguasa.Sesungguhnya Islam dimasa mendatang adalah Islam Sunni. Sesungguhnya Islam yang akan datang adalah Islam Salafi.

Sesungguhnya tegaknya kekhalifahan dan kemenangan yang kita tunggu-tunggu dan terus kita dengungkan, adalah kemenangan yang terjadi melalui tangan-tangan orang-orang itu, generasi-generasi orang-orang itu, generasi yang beriman kepada Kitab Allah, dan beriman kepada Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah, sesuai dengan pemahaman Abu Bakar, sesuai dengan pemahaman Umar, sesuai dengan pemahaman Utsman, sesuai dengan pemahaman Ali dan sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.

Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang berderajat hasan, yaitu hadits Hudzaifah, dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memeberitakan .... maka Nabi bersabda."Artinya : Adalah di tengah-tengah kamu (masa) kenabian sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada (masa) khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj (jalan) kenabian sampai pada (masa) yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Setelah itu akan ada kerajaan yang menggigit dengan kuat (berpegang pada sunnah) hingga pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Sesudah itu akan ada kerajaan yang sewenang-wenang sampai pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj (jalan) kenabian. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diam" [Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Lihat Silsilah Shahihah No. 5]

Ya, demikianlah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan tahapan-tahapan yang dilalui umat ini. Tahap kenabian, dan ini sudah berlalu dengan kematian nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian (tahap) khilafah yang berjalan berdasarkan sunnah Nabi, berjalan berdasarkan manhaj Nabi dan melangkah mengikuti langkah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Itulah dia Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan minhaj kenabian. Itulah dia Khilafah Abu Bakar, Khilafah Umar, Khilafah Utsman dan Khilafah Ali. Kemudian berputarlah roda Islam, lalu Allah memberikan kerajaan (kekuasaan)-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan saat itu adalah kerajaan yang menggigit (berpegang) kuat (pada sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam). Setelah itu berputar lagi roda Islam, maka berganti dengan kerajaan-kerajaan yang sewenang-wenang.

Sementara roda Islam akan terus berputar, dan kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan minhaj kenabian.Renungkanlah, Khilafah Rasyidah yang akan ada di akhir zaman, persis seperti dengan Khilafah yang ada di awal zaman. Itulah dia Khilafah yang ditegakkan oleh orang-orang yang berada pada manhaj para Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.Bergembiralah anda sekalian, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya saya melihat terbitnya fajar baru bagi dakwah ini, dakwah Salafiyah yang penuh berkah. Betapapun berbagai golongan melakukan tipudaya terhadapnya. Sekalipun berbagai firqah berupaya menerkamnya, mereka ingin menggulungnya. Tetapi Allah (niscaya) akan melaksanakan apa yang menjadi keputusan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui. Sesunguhnya dakwah Salafiyah adalah dakwah yang dijaga oleh Allah dan Allah berjanji akan menolongnya. Akan tetapi kita seharusnya menjadi tentara dakwah salafiyah ini, tentara yang memenuhi seruan dakwah salafiyah. Kita (harus) memahami dakwah ini sebagaimana para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memahaminya.

Kita melaksanakan dakwah ini sebagaimana para Salafus Shalih melaksanakannya. Kita (sepenuhnya) percaya, seperti kepercayaan kita terhadap agama (Islam) bahwa masa depan (yang gemilang -pent) akan diraih oleh dakwah Salafiyah, sebab dakwah salafiyah adalah agama (Islam) itu sendiri.Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku tercinta, yang diharapkan dari anda sekalian adalah hendaknya anda sekalian menjadi singa-singa sunnah di negeri ini. Hendaknya anda sekalian menjadi macan-macan faham Salafus Shalih di negeri ini. Anda angkat kepala anda tinggi-tinggi, angkat suara anda keras-keras untuk (menyuarakan) dakwah menuju Kitab, Sunnah dan pemahaman Salaful Ummah. Jangan terperdaya oleh banyaknya orang-orang binasa. Dan jangan pula menjadi sedih karena sedikitnya orang-orang yang menempuh (jalan kebenaran).

Sebagaimana dikatakan oleh al-Fudhail bin Iyadh :"Kamu harus berpegang pada jalan-jalan petunjuk sekalipun sedikit jumlah penempuhnya. Dan jangan sekali-kali kamu menempuh jalan-jalan kesesatan sekalipun banyak jumlah orang-orang yang binasa menempuhnya".Sesungguhnya, apabila jumlah yang banyak, berpegang pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah serta pemahaman Salafus Shalih, sesungguhnya jumlah itu adalah kelompok yang selamat, firqah yang pasti akan diberi kemenangan dan golongan yang melalui tangan-tangan mereka akan terwujud kejayaan Islam.Saya berharap agar Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada anda semua untuk berjalan menempuh manhaj yang benar ini.

(Saya juga berharap kepada Allah) apabila saya lupa -tetapi saya tidak lupa- untuk mengarahkan rasa terima kasih saya, dan saya tambahkan suara saya pada suara saudara saya yang tercinta Ali (bin Hasan) -hafidzahullah- bahwa saya berterima kasih kepada para pengampu Ma'had Diniyah al-Irsyad di Surabaya, terutama al-akh Syaikh yang mulia Abdur Rahman at-Tamimi[1].Saya memohon kepada Allah agar Dia memberikan kesempurnaan kepada kami, kepadanya (Abdur Rahman at-Tamimi) dan kepada anda sekalian (dalam berpegang pada) al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah. Juga agar Allah memantapkan kita dijalan kebenaran ini hingga kita menemui-Nya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M hal. 39-40]

Foot Noote
[1]. Ustadz Abdur Rahman at-Tamimi adalah termasuk salah satu Panitia dan juga bertindak sebagai tuan rumah Daurah asy-Syar'iyah fi al-Masa'il al-'Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan tanggal 15-18 Dzul Qa'dah 1421H di Ma'had Diniyah al-Irsyad Surabaya.

Thursday, January 26

Tauhid Al-Asma` Wash-Shifat

TAUHID AL-ASMA' WASH-SHIFAT

OlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

salinan dari www.almanhaj.or.id

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu dengan Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mensucikanNya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur'an dan as-Sunnah dan tidak boleh dita'wil.

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, al-Auza。'iy, al-Laits bin Sa。'ad dan Sufyan ats-Tsaury tentang berita yang datang mengenai Sifat-Sifat Allah, mereka semua menjawab:"Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat Allah) sebagaimana datangnya dan janganlah kamu persoalkan (jangan kamu tanya tentang bagaimana sifat itu)."[1]

Imam Asy-Syafi' Rahimahullah berkata: "Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah。[2]

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: "Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah mereka mengimani Tauhid al-Asma' wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan telah ditetapkan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam untuk-Nya, tanpa tahrif[3] dan ta'thil[4] serta tanpa takyif[5] dan tamtsil[6]. Menetapkan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta'thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya"

Firman Allah Subhanahu wa Ta。'ala:"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamelihat。ィ [Asy-Syuura':11]Lafazh ayat : "Tidak ada yang serupa dengan-Nya" merupakan bantahan kepada golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.Sedangkan lafazh ayat : "Dan Dia Mahamen-dengar lagi Mahamelihat" adalah bantahan kepada orang-orang yang menafikan/mengingkari Sifat-Sifat Allah.

'Itiqad Ahlus Sunnah dalam masalah Sifat Allah Subhanhu wa Ta'ala didasari atas dua prinsip:Pertama.Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala wajib disucikan dari semua sifat-sifat kurang secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya.Kedua.Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah.[7]Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak menolak sifat-sifat yang disebutkan Allah untuk Diri-Nya, tidak menyelewengkan kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala dari kedudukan yang semestinya, tidak mengingkari tentang Asma' (Nama-Nama) dan ayat-ayatNya, tidak menanyakan tentang bagaimana Sifat Allah, serta tidak pula mempersamakan Sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahwa Allah Azza wa Jalla tidak sama dengan sesuatu apapun juga. Hal itu karena tidak ada yang serupa, setara dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya Azza wa Jalla, serta Allah tidak dapat diqiaskan dengan makhluk-Nya.Yang demikian itu dikarenakan hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang lebih tahu akan Diri-Nya dan selain Diri-Nya. Dialah yang lebih benar firman-Nya, dan lebih baik Kalam-Nya daripada seluruh makhluk-Nya, kemudian para Rasul-Nya adalah orang-orang yang benar, jujur, dan juga yang dibenarkan sabdanya. Berbeda dengan orang-orang yang mengatakan terhadap Allah Azza wa Jalla apa yang tidak mereka ketahui, karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:"Artinya : Mahasuci Rabb-mu, yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul, dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam.。ィ [Ash-Shaffat: 180-182]

Allah Jalla Jalaluhu dalam ayat ini mensucikan diri-Nya, dari apa yang disifatkan untuk-Nya oleh penentang-penentang para Rasul-Nya. Kemudian Allah Azza wa jalla melimpahkan salam sejahtera kepada para Rasul, karena bersihnya perkataan mereka dari hal-hal yang mengurangi dan menodai keagungan Sifat Allah.[8]Allah Subhanahu wa Ta。ヲala dalam menuturkan Sifat dan Asma'Nya, memadukan antara an-Nafyu wal Itsbat (menolak dan menetapkan)[9] Maka Ahlus Sunnah wal Jama`ah tidak menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh para Rasul, karena itu adalah jalan yang lurus (ash-Shiraathal Mustaqiim), jalan orang-orang yang Allah karuniai nikmat, yaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin[10]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

Foot Note
[1]. Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitabus Sunnah, al-Laalikai (no. 930). Lihat Fatwa Hamawiyah Kubra (hal. 303, cet. I, 1419 H) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Hamd bin Abdil Muhsin at-Tuwaijiry, Mukhtashar al-Uluw lil Aliyil Ghaffar (hal. 142 no. 134). Sanadnya shahih.
[2]. Lihat Lum。'atul I'tiqaad oleh Imam Ibnul Qudamah al-Maqdisy, syarah oleh Syaikh Muhammad Shalih bin al-Utsaimin (hal. 36).
[3]. Tahrif atau ta'wil yaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.
[4]. Ta'thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-Sifat Allah atau mengingkari seluruh atau sebagian Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala.Perbedaan antara tahrif dan ta'thil ialah, bahwa ta'thil itu mengingkari atau menafikan makna yang sebenarnya yang dikandung oleh suatu nash dari al-Qur'an atau hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan tahrif ialah, merubah lafazh atau makna, dari makna yang sebenarnya yang terkandung dalam nash tersebut.
[5]. Takyif yaitu menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau mempertanyakan: "Bagaimana Sifat Allah itu?". Atau menentukan bahwa Sifat Allah itu hakekatnya begini, seperti menanyakan: "Bagaimana Allah bersemayam?" Dan yang sepertinya, karena berbicara tentang sifat sama juga berbicara tentang dzat. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla mempunyai Dzat yang kita tidak mengetahui kaifiyatnya. Dan hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui dan kita wajib mengimani tentang hakikat maknanya.
[6]. Tamtsil sama dengan Tasybih, yaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Lihat Syarah Aqidah al-Wasithiyah (I/86-100) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Aqidah al-Wasithiyah (hal 66-69) oleh Syaikh Muhammad Khalil Hirras, Tahqiq Alawiy as-Saqqaf, at-Tanbiihat al-Lathifah ala Mahtawat alaihil Aqidah al-Wasithiyah (hal 15-18) oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, tahqiq Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, al-Kawaasyif al-Jaliyyah an Ma'anil Wasithiyah oleh Syaikh Abdul Aziz as-Salman.
[7]. Lihat Minhajus Sunnah (II/111, 523), tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim.
[8]. Lihat at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 15-16.
[9]. Maksudnya, Allah memadukan kedua hal ini ketika menjelaskan Sifat-Sifat-Nya dalam al-Qur-an. Tidak hanya menggunakan Nafyu saja atau Itsbat saja. Nafyu (penolakan) dalam al-Qur'an secara garis besarnya menolak adanya kesamaan atau keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya, baik dalam Dzat maupun sifat, serta menolak adanya sifat tercela dan tidak sempurna bagi Allah. Dan nafyu bukanlah semata-mata menolak, tetapi penolakan yang di dalamnya terkandung suatu penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah, misalnya disebutkan dalam al-Qur'an bahwa Allah tidak mengantuk dan tidak tidur, maka ini menunjukkan sifat hidup yang sempurna bagi Allah.Itsbat (penetapan), yaitu menetapkan Sifat Allah yang mujmal (global), seperti pujian dan kesempurnaan yang mutlak bagi Allah dan juga menetapkan Sifat-Sifat Allah yang rinci seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya dan yang seperti itu. (Lihat Syarh al-Aqiidah al-Wasithiyyah oleh Khalil Hirras, tahqiq Alwiy as-Saqqaf, hal. 76-78).
[10]. Lihat QS. An-Nisaa。' 69 dan at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 19-20.

Monday, January 23

Tauhid Huluhiyyah

TAUHID ULUHIYYAH

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

salinan dr www.almanhaj.or.id

Tauhid Uluhiyyah Artinya, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta`ala melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala apabila hal itu disyari`atkan oleh-Nya, seperti berdo`a, khauf (takut), raja・(harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti`anah (minta pertolongan), isthighotsah (minta pertolongan di saat sulit), isti`adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari`atkan dan diperintahkan Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Dan tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa: 48, 116] [1]Al-Ilah artinya al-Ma`uh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesem-bahan yang haq melainkan Dia. Yang Mahapemurah lagi Maha-penyayang・[Al-Baqarah: 163]Berkata Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa`di Rahimahullah (wafat th. 1376 H): Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak boleh Dia disekutukan dengan seorang pun dari makhluk-Nya[2]Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman.Artinya : Allah menyatakan bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain-Nya, Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana・[Ali Imran: 18]Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman mengenai Lata, Uzza dan Manat yang disebut sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah:Artinya : Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya...納An-Najm: 23]Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta`ala adalah bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.Artinya : (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar・[Al-Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf `Alaihis Sallam yang berkata kepada kedua temannya di penjara:Artinya : Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu・[Yusuf: 39-40]Oleh karena itu para Rasul Alaihimus Salam berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja[3]Artinya : Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesem-bahan yang haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)・[ Al-Mukminuun: 32]Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta`ala. Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta`ala .

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala dengan dua bukti.Pertama.Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan mematikan.Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:Artinya :Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengam-bil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.・[Al-Fur-qaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:Artinya : Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit. Dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.・Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat..・[Saba・ 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman:Artinya : Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.・[Al-A`raaf: 191-192]Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah dan tempat meminta pertolongan.Kedua:Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta`ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melin-dungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyah (ketuhanan) Allah.

Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk me-laksanakan Tauhid Uluhiyah (beribadah hanya kepada Allah saja).Artinya : Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui,Al-Baqarah: 21-22]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

Foot Note
[1]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atha・ Ikrimah, asy-Syafi`i, Qatadah dan lainnya. Lihat Fat-hul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid (hal. 39-40) tahqiq Dr. Walid bin Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.
[2]. Lihat Min Ushuuli Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa`ah dan Aqidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fat-hul Majiid Syarah Kitabut Tauhiid dan al-Ushuul ats-Tsalaatsah (Tiga Landasan Utama).
[3]. Lihat Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 63, cet. Mak-tabah al-Ma`arif , 1420 H).

Sunday, January 22

Tauhid Rububiyyah

TAUHID RUBUBIYYAH

OlehAl-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

salinan dari www.almanhaj.or.id

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta`ala baik mencipta, memberi rizki menghidupkan dan mematikan serta bahwasanya Dia adalah Raja, Penguasa dan Yang mengatur segala sesuatu.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman Artinya : Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.・[Al-A`raaf: 54]Allah Azza wa Jalla berfirman:Artinya : ...Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, kepunyaanNya-lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.[ Faathir: 13]Orang musyrikin juga mengakui tentang sifat Rububiyyah Allah.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta`ala
Artinya : Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan.・Maka, mereka men-jawab: Allah.・Maka, katakanlah: Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?・Maka, (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka, bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)" [Yunus: 31-32]

Firman Allah Subhanahu wa Ta`ala
Artinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi,・niscaya mereka akan menjawab: Semuanya diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui"[Az-Zukhruuf: 9][1]

Kaum musyrikin mengakui bahwasanya hanya Allah semata Pencipta segala sesuatu, Pemberi rezeki, Yang memiliki langit dan bumi, dan Yang mengatur alam semesta, namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, yang mereka bertawasul dengannya (berhala tersebut) dan menjadikan mereka pemberi syafa`at, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat.[2]

Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta`ala"Artinya : Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain ).・[Yusuf: 106]Sebagian ulama Salaf berkata: Jika kalian tanya pada mereka : Siapa yang menciptakan langit dan bumi ?・Mereka pasti menjawab: Allah.・Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.・[3]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

Foot Note
[1]. Lihat juga QS. Al-Mu`minuun: 84-89, lihat juga ayat-ayat lain.
[2]. Lihat QS. Yunus: 18, az-Zumar: 3, 43-44.
[3]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atha・ Ikrimah, asy-Syafii, Qatadah dan lainnya. Lihat Fat-hul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid (hal. 39-40) tahqiq Dr. Walid bin Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.

Saturday, January 21

Adab dan sebab terkabulnya do`a

Adab dan sebab terkabulnya do`a

Assalamualaykum warahmatullah

Segala puji hanya bagi Alloh,hanya milikNya,hanya kepadaNya kita memuji memohon pertolongan dan memohon ampun.

Diantara adab berdo`a dan beberapa faktor penyebab dikabulkannya do`a adalah sebagai berikut:

1.Ikhlas karena Alloh Azzawajalla semata ( QS.Al-Mu`min :14,Al-Bayyinah :5 )

2.Menagawali dengan pujian dan sanjungan kepada Allah,lalu diikuti dengan membaca shalawat atas Rasulullah SalallahuAlaihiWasallam dan diakhiri dengannya

3.Bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do`a,serta yakin akan dikabulkan.

4.Mendesak dengan penuh kerendahan dalam berdo`a dan tidak terburu-buru

5.Menghadirkan hati dalam berdo`a

6.Memanjatkan do`a baik dalam keadaan lapang maupun susah

7.Tidak boleh berdo`a dan memohon sesuatu kecuali hanya kepada Allah semata

8.Tidak mendo`akan keburukan kepada keluarga,harta,anak dan diri sendiri

9.Merendahkan suara ketika berdo`a yaitu antara samar dan keras ( QS.Al-A`raf :55,205 )

10.Mengakui dosa yang telah diperbuat,lalu memohon ampunan atasnya,serta mengakui nikmat yang telah diterima dan bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut

11.Tidak membebani diri dalam membuat sajak dalam berdo`a

12.Tadharru`( merendahkan diri ),khyusu`,raghbah ( berharap untuk dikabulkan )dan rahbah ( rasa takut tidak dikabulkan ).(QS.Al-Anbiyya`:90)

13.Mengembalikan ( hak orang lain ) yang di dzalimi disertai dengan taubat

14.Memanjatkan do`a tiga kali

15.Menghadap kiblat

16.Mengankat kedua tangan dalam berdo`a

17.Jika mungkin berwudhu` terlebih dahulu sebelum berdo`a * 2

18.Tidak berlebih-lebihan dalam berdo`a *3

19.Bewtawassul kepada Allah dengan Asmaa`ul Husna dan sifat-sifatNya yang Mahatinggi,atau dengan amal shalih yang pernah di kerjakannya sendiri atau dengan do`a seorang shalih yang masih hidup*4

20.Makanan dan minuman yang dikonsumsi serta pakaian yang dikenalkan harus berasal dari usaha yg halal

21.Tidak berdo`a untuk suatu dosa atau memutuskan silaturahmi

22.Menjauhi segala bentuk maksiat

23.Harus menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar

24.Hendaklah orang yang berdo`a memulai dengan mendo`akan diri sendiri,jika dia hendak mendo`akan orang lain*5

catatan kaki:

*1).Lihat penjelasan ini disertai dalil-dalilnya dalam kitab

①.Adz-dzikir wad du`aa` minal Kitab was sunnah.hal 88-100

②.Shahih al Adzkaar-Imam Nawawi,II/955-969

③.Ad-Daa` wad Dawaa`-Imam Ibnu Qayyim.hal 14-21tahqiq syaikh Ali Hasan

④.Ad-Du`aa`-Syaikh Husain `Awayisyah.hal 17-32,DLL

*2).Nabi pernah berwhudu`lalu mengangkat kedua tangannya untuk berdo`a:" Ya Allah,ampunkanlah `Ubaid Abi `Amir...( HR.Al-BUkhari;4323,Muslim;2498 )

*3)Misalnya:Tidak meminta sesuatu yg mustahil,Mengeraskan suara dengan keras

*4) Adapun tawassul dengan org yang telah wafat tidak di bolehkan,tidak ada contoh dari Rasulullah dan tidak juga dari para sahabatnya,bahkan ini adalah perbuatan bid`ah bahkan bisa jatuh kedalam perbuatan syirik.lihat At-Tawassul Anwaa`uhu Ahkaamuhu oleh syaikh Al-Albani

*5) Rasulullah mengawali doa untuk diri beliau sendiri.Dan ada pula riwayat bahwa beliau SalallahuAlaihiWasallam pernah tidak memulai dengan dirinya sendiri,seperti doa beliau untuk Anas,Ibnu Abbas,Ummu Ismail,dll.rincinya dalam kitabSyarh an Nawawi li Shahih Muslim,Albukhari disertai dgn Fathul Baari

Disadur dari : Adab dan Sebab terkabulnya doa`a menurut al-Qur`an dan as-Sunnah yang Shahih ( Ust.Yazin bin Abdul Qadir Jawas )