❤ Pelajarilah Ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, Menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah Tasbih, mencarinya adalah Jihad, Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah Shadaqah, menyerahkan kepada ahlinya adalah Taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian ❤ – Muadz bin Jabal Radhiyyallahu anhu -
Showing posts with label manhaj. Show all posts
Showing posts with label manhaj. Show all posts

Thursday, July 3

Siyasah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah



Berkata Penanya :

Saya mendapat informasi website ini dari kawan di internet. ada satu permasalahan yang ingin saya utarakan. mengapa selama ini orang2 salaf yang katanya selalu mengikuti tuntunan Rasul mendukung pemerintahan Arab Saudi yang kita ketahui dalam sikap politik nya sangat mendukung amerika dan langkah2 yang dilakukan sering menyakiti hati umat Islam. Contoh seperti kasus hamas-fatah dimana pemerintah saudi mendukung fatah yg pro israel, masalah lebanon yg kemudian mengatakan bahwa hezbolla tidak boleh dibantu karena syiah walaupun hezbolla berjuang untuk rakyat lebanon (saya adalah muslim sunni) dan satu lagi permasalahan Iraq dmn arab saudi juga ikut memboikot saddam, sejahat apapun saddam dia muslim dan satu lagi kejahatan dia tidak ada apa2nya dibanding amerika dan zionist israel. tapi apa yang dilakukan oleh madzhab salaf, mereka selalu mendukung pemerintah arab saudi walaupun pemerintah saudi terlalu pengecut untuk membantu umat islam dan sangat membantu amerika secara langsung dan israel secara tidak langsung dalam mencapai tujuan2 jahat nya. semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan teman-teman ku di kalangan salaf akan suatu kebenaran.

Satu hal lagi, Nabi mengajarkan siapa yang menjadi khalifah diliat dari akhlak dan taqwanya bukan karena dia keturunan raja, itu sudah jelas. tapi mengapa hal yg jelas ini tidak dapat memberanikan diri bagi kalian untuk merubah tuntunan kehidupan bernegara di saudi dan negeri arab sekitarnya. saya tahu, wahabi dan salaf punya pengaruh yang cukup besar di saudi dan sekitarnya.

Wassalamualaikum

Jawab:

Saudara penanya semoga Allah membimbing anda ke jalan yang diridhoiNya, dakwah Salafiyyah itu tidak ada kaitannya dengan pemerintah manapun dan tidak ada kaitannya pula dengan partai politik apapun. Dakwah Salafiyyah mengajak umat Islam, bahkan seluruh ummat manusia untuk memahami, mengimani, dan mengamalkan agama Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam beserta para Shahabatnya. Dakwah Salafiyyah adalah satu-satunya bentuk pengamalan perjuangan Islam yang benar, dengan merujuk kepada Al Qur'an dan As Sunnah yang mengacu kepada para Shahabat Nabi dan Tabi'in.



Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang menjadi pijakan perjuangan dakwah Salafiyyah, selalu mengedepankan sikap adil dan ilmiah. Sedangkan sikap adil itu adalah sikap yang tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu kecintaan dan atau kebencian kepada seseorang atau sekelompok orang, sedangkan sikap ilmiah adalah kepastian berita dari sumber yang diyakini kejujuran dan kebenarannya dalam menyampaikan berita, dengan dikontrol oleh Al Qur'an serta As Sunnah. Sedangkan dakwah-dakwah yang lainnya selalu dipengaruhi oleh hawa nafsu hizbiyyah yang melihat segala perkara dengan ukuran cinta dan benci kepada hizb-nya atau terhadap lawan hizb-nya. Sehingga tidak mementingkan sisi ilmiah dalam menghukumi sesuatu masalah, padahal di zaman ini amat sedikit orang yang jujur dalam menyampaikan berita. Akibatnya gerakan-gerakan dakwah hizbiyyah cenderung mendzolimi kawan dan lawan dalam banyak hal, dan ditunggangi oleh berbagai kepentingan musuh-musuh Islam atau para oportunis munafiqin yang ingin menjual belikan Islam dengan harga yang murah.



Dakwah Salafiyyah tidak bisa digiring oleh opini publik yang dikendalikan oleh mass media zionist dan salibis. Karena manhaj salaf amat ketat dalam menyaring berita dan menelitinya sampai pada tingkat yang sangat meyakinkan. Sedangkan publik opini yang digerakkan oleh zionist salibis , amat rendah tingkat akurasinya dihadapan ketentuan-ketentuan penyaringan berita yang diletakkan oleh manhaj Salaf. Itulah sebabnya dakwah Salafiyah tidak mau ikut-ikutan dengan arus berita mass media zionist salibis yang mengelu-elukan gerombolan Rofidhoh Hizbus Syaithan yang menamakan dirinya dengan Hizbullah, ketika mass media menampilkan gerombolan tersebut sebagai lambang perlawanan terhadap Israel, padahal Israel dan gerombolan tersebut kalau dibedah anatomi pemikirannya dan keyakinannya adalah setali tiga uang . Kondisi sekarang yang menampilkan gerombolan-gerombolan Hizbussyaithan ini sama dengan kondisi tahun 1979 yang pada waktu itu mass media zionist salibis menampilkan Khumaini dengan Revolusi Rofidhohnya sebagai lambang perlawanan terhadap hegemoni Amerika Serikat, padahal kebencian Khumaini terhadap Al Qur'an dan As Sunnah, sama saja dengan kebencian Yahudi dan Nashoro terhadap keduanya, hanya saja gerakan Khumaini lebih berbahaya terhadap Islam dan Muslimin daripada Yahudi dan Nashoro. Karena Khumaini memakai bendera Islam dalam memerangi Al Qur'an dan As Sunnah.

Demikian pula gerakan Hamas yang ada di Palestina, sesungguhnya sama sekulernya dengan gerakan Al Fattah. Kedua-duanya sama-sama berjuang untuk mencapai kekuasaan dibumi Palestina, dan kedua-duanya sekarang memegang pemerintahan disana. Kedua partai tersebut dalam menjalankan pemerintahan sama-sama sepakat untuk tidak menjalankan Syari'ah Islamiyah dalam pemerintahannya, tentu dengan alasan masing-masing. Tetapi Al Fattah lebih realistis daripada Hamas dalam perjuangannya untuk masa depan berdirinya negara Palestina dibanding dengan Hamas. Karena Al Fattah yang sekuler itu mempertimbangkan realita kelemahan bangsa Palestina dalam menghadapi kekuatan Israel yang didukung oleh hegemoni zionist dan salibis dunia. Adapun Hamas, tidak peduli dengan penderitaan rakyat Palestina yang di akibatkan oleh manuver-manuver politiknya yang sama sekali tidak logis dalam mempertimbangkan maslahat dan mafsadah kepentingan kaum Muslimin di Palestina. Karena memang Hamas hanya bisa mempertahankan eksistensinya dengan menjual isu-isu politik yang terkesan heroik dan bisa menyentuh emosi keagamaan kaum Muslimin didunia dan khususnya di Palestina. Harga yang harus dibayar oleh kaum Muslimin di Palestina untuk mendukung manuver politik Hamas itu adalah pembunuhan rakyat, penghancuran kampung-kampung mereka, kelaparan dan kesengsaraan serta buruknya pelayanan kesehatan untuk mereka sehingga memaksa mereka untuk meninggalkan bumi Palestina karena kehancuran fasilitas hidup disana. Maka kalau kita menengok kenyataan tersebut diatas dimana pengorbanan nyawa dan harta kaum Muslimin didunia dan khususnya di Palestina, hanya untuk membela eksistensi Hamas dan sama sekali bukan untuk membela tegaknya syari'at Islam dibumi Palestina. Itulah sebabnya manhaj Salaf tidak mau ikut-ikutan dengan opini yang telah terbentuk didunia Islam yang menjadikan Hamas sebagai lambang perjuangan Islam di Palestina. Karena realita dilapangan justru menunjukkan sebaliknya, yaitu Hamas menjadi gerakan yang mengorbankan jiwa dan raga ummat Islam demi kepentingan hizb-nya.

Isu-isu politik yang lainnya seperti upaya penggiringan publik opini didunia Islam, untuk menilai pemerintah Saudi sebagai antek Amerika dan menganggap pemerintah Saudi tidak pernah mempunyai kontribusi untuk kepentingan ummat Islam dunia. Ini adalah kedzoliman berikutnya yang digerakkan oleh mass media zionist salibis dan didukung oleh gerombolan-gerombolan hizbiyyah semacam Ikhwanul Muslimin dan atau gerakan-gerakan Thoriqot Shufiyyah serta gerakan yang mengacu kepada pemahaman Mu'tazilah semacam Hizbut Tahrir dan lain-lainnya. Padahal pemerintah Saudi dengan berbagai kekurangannya adalah satu-satunya negara didunia yang mempunyai konstitusi kenegaraan yang merujuk kepada kemurnian Al Qur'an dan As Sunnah, sehingga tidak ada seorang pejabat pun di Saudi dari kalangan non Muslim, dan tidak ada tempat ibadah dari kalangan non Muslim yang boleh berdiri ditempat umum diseluruh wilayah Saudi. Hukum yang berlaku juga adalah hukum Islam, dan satu-satunya negara yang mewajibkan penduduknya untuk menunaikan sholat lima waktu di masjid. Jihad di Afghanistan dulu dan sekarang di biayai oleh bangsa dan negara Saudi ‘Arabiya, donatur terbesar untuk pemerintahan Hamas di Palestina ketika di boikot oleh Barat dan Israel , adalah Saudi ‘Arabiya. Donatur terbesar perjuangan kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Irak melawan Amerika Serikat adalah bangsa dan negara Saudi ‘Arabiya. Donatur terbesar untuk kepentingan pertolongan bagi daerah-daerah muslimin yang terkena bencana termasuk Tsunami di Aceh adalah bangsa dan negara Saudi ‘Arabiya. Bahkan ketika gerombolan Hamas dan Al Fattah berperang sesama mereka didepan rakyat Palestina dengan mengorbankan jiwa dan raga rakyat Palestina, tidak ada pemerintahan manapun didunia yang mendamaikan mereka kecuali pemerintah Saudi ‘Arabiya yakni dengan di undangnya kedua kelompok tersebut di Istana Raja Saudi ‘Arabiya di Jabal Qubays Makkah.

Kedatangan perwakilan dua kelompok tersebut dari Palestina ke Makkah dan dari Makkah ke Palestina dengan segenap fasilitasnya, ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Saudi ‘Arabiya, dan menghasilkan persatuan kembali bangsa Palestina. Ketika pemerintah G.W Bush memaksakan sistem politik demokratisme kepada dunia Islam, maka satu-satunya pemerintah yang berani menentangnya adalah pemerintah Saudi ‘Arabiya, belum lagi sumbangan Saudi ‘Arabiya untuk pendidikan Islam didunia Islam. Semua itu harus di nafikan dan harus dianggap tidak ada oleh orang-orang yang sudah teracuni penyakit hizbiyyah, sehingga cenderung bersikap dzolim dan tidak mempunyai sikap adil dalam menilai permasalahan. Hanya karena pemerintah Saudi ‘Arabiya menentang kejahatan Saddam Husain ketika memerintah, atau hanya karena pemerintah Saudi ‘Arabiya tidak selalu sejalan dengan pemikiran para politikus gadungan yang bermental oportunis, dan menampilkan isu-isu ke-Islaman demi kepentingan pribadinya atau kepentingan hizb-nya.

Adapun bentuk pemerintahan kerajaan dengan sistem pengangkatan kepala negara berdasarkan turun temurun dari bapak kepada anak atau dari kakak kepada adik, memang sistem politik yang demikian sangat bertentangan dengan agama demokratisme. Ketika tidak menerapkan sistem dan jalur demokratisme dalam proses pengangkatan kepala negara itu, meskipun keluarga tersebut mempunyai keahlian politik dan keahlian kepemimpinan kenegaraan yang telah teruji berpuluh-puluh tahun bahkan hampir beratus tahun, dan sistem pemerintahan demikian telah berhasil memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Saudi ‘Arabiya. Namun sistem pemerintahan demikian dianggap dzolim oleh agama demokratisme. Tapi kalau pemerintahan itu di jalankan dengan turun temurun dari bapak kepada anak dengan menjalankan sistem politik demokratisme seperti di Amerika Serikat, dimana George Bush senior menurunkan kekuasaannya kepada G.W Bush junior, atau seperti di Singapore dimana Lee Kwan Yu menurunkan kekuasaannya kepada putranya, dan seperti di India dimana perdana menteri Jawaharlal Nehru yang mewariskan kekuasaanya kepada putrinya yang bernama Indi Ragandi dan Indi Ragandi mewariskan kepada putranya yang bernama Rajif Gandhi, maka yang demikian itu tetap di anggap baik dan bagus atau di anggap adil karena dijalankan pewarisan tahta kekuasaan itu dengan sistem demokratisme.

Demikianlah betapa tidak konsistennya teori demokratisme itu, bila dijadikan sebagai barometer untuk menilai baik dan buruknya satu pemerintahan. Adapun menurut pandangan Islam, sistem pemindahan kekuasaan dari bapak kepada anak atau dari kakak kepada adik atau dari kalangan keluarga adalah perkara yang sah dan tidak salah, selama pemindahan kekuasaan itu diberikan kepada orang ahlinya dan tidak diberikan kepada orang yang tidak ahli dalam memimpin negara itu. Maka kita melihat bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mewariskan kekuasaan sepeninggal beliau kepada mertua beliau yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq, dan sepeninggal Abu Bakr Ash-Shidiq di wariskan kekuasaan itu kepada mertua Rasulullaah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang lainnya yaitu Umar bin Al Khoththob dan sepeninggal Umar kekuasaan di wariskan kepada menantu Rasulullaah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu ‘Utsman bin ‘Affan dan sepeninggal ‘Utsman kekuasaan di wariskan kepada menantu dan saudara misan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, sepeninggal ‘Ali kekuasaan di wariskan kepada putra beliau yaitu Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, yang memegang kekuasaan hanya selama 4 bulan. Kemudian diserahkan kekuasaan itu kepada saudara ipar Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan begitu selanjutnya. Semua itu tidak menjadi masalah dalam pandangan Islam, selama orang yang diserahi kepemimpinan negara dan bangsa itu mempunyai keahlian yang cukup dalam menjalankan amanah kekuasaannya.

Demikianlah sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah para Salafus Sholih dalam memandang segala permasalahan termasuk berbagai isu politik nasional dan internasional. Dimana pandangan sunnah tersebut selalu mengedapankan sikap adil dan jauh dari pengaruh hawa nafsu serta ilmiah, dengan memastikan segala informasi itu dari sumber-sumber berita yang terpercaya. Tentu sistem pandangan demikian melawan arus penggiringan opini yang cenderung kepada kedzoliman, kerancuan dan kedustaan serta kepalsuan. Makanya pandangan-pandangan seperti ini sering mengagetkan banyak orang, karena memang kebanyakan orang tenggelam dalam banjir informasi yang arusnya dikendalikan oleh zionist dan salibis.


sumber

Saturday, June 23

POKOK-POKOK FIRQAH YANG MENYIMPANG

Untuk membedakan dakwah ahlusunnah waljamaah dengan firqah yang menyimpang maka sebelum nya kita harus mengenal pokok-pokok firqah yang telah dikenaloleh ulama ahlususnnah wal-jama’ah

A. KHAWARIJ

Khawarij merupakan sebuah nama yang dinisbatkan kepada meraka yang keluar dari kelompok Ali bin Abi Tholib dalam sebuah keputusan gencatan senjata pada perang siffin. Kelompok ini menentang pendapat Ali bin Abi Tholib dalam keputusan dihentikannya perang tersebut. Mereka kemudian memisahkan diri dan keluar dari kelompok tersebut. Kaum Khawarij ini kemudian menaru kebencian dan dendam yang amat sangat kepada Khalifah Ali bin Abi Tholib ra. Mereka menganggapbahwa Ali ra sangat lemah dalam menegakan kebenaran.Namun mereka juga amat membenci sahabat Mu’awiyah bin abi Sofyan, karena dianggap melawan khalifah Ali yang sah. Kebencian dan dendamtersebut semakin memuncak pada saat Aliharus menerima kekalahan dalam peristiwa “Tahkim”, dimana khalifah Ali harus meletakkan jabatannya dari seorang khalifah.

Semboyan yang mereka selalu dengungkan adalah semboyan “Laa hukma Illah Lillah”. Mereka menuntut supaya khalifah Ali ra mengakui kesalahannya karena telah menerima tahkim atau khalifah Ali harus mengakui bahwa ia menjadi kafir. Kaum khawarij mengancam bila Ali ra mau bertaubat maka mereka akan bergabung kembali untuk memerangi Mu’awiyah. Namun bila Ali enggan, maka khalifah Ali dan sahabat mu’awwiyah akan diperanginya.

Posisi ini amat menyulitkan bagi Ali untuk menentukan sikap untuk menghadapi ancaman kaum khawarij.Hingga pada akhirnya kaum khawarij itu meninggalkan Ali ra dan pergi kesebuah daerah yang bernama Harura, sehingga mereka di sebut juga dengan kelompo Hururiyah. Jumlah mereka mencapai 12.000 orang. Mereka berangkat dengan di kepalai oleh seorang pemimpin yang mereka angkat, yaitu Abdullah bin Wahhab Ar Rasyidi.

Beberapa ciri khas sekte Khawarij sebagaimana yang di gambarkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:

  1. Mereka adalah kaum yang mudah mencela dan cepat menganggap sesat tindakan seseorang. Pada masa Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam sikap ini telah muncul pada Dzul Khuwaishirah saat mencela tindakan Rasul dalam pembagian harta Ghanimah.( HR Bukhari :VI/ 617 No.3610, VII/97 No.4351, Muslim : II /743-744)

  1. Mereka adalah orang yang sangat berlebihan dalam melaksanakan ibadah, rajin membaca Al-qur’an,dahi-dahi mereka hitam karena banyak bersujud, air mata mereka selalu tumpah karena banyak menangis, mereka rajin shiam sunnah, namun mereka adalah orang yang paliung jauh dari agama. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan tentang mereka bahwa mereka telah keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya.

  1. Mereka terkenal sangat bersikap keras dan kasar terhadap kaum muslimin. Sikap keras dan bengis mereka sampai kepada tingkat perbuatan yang amat terkutuk dan tercela, yaitu mengmahalkan darah mereka dan merampas harta mereka serta melanggar kehormatannya. Namun sebaliknya justru mereka amat belas lasih dan bersikap lemah lembut kepada orang kafir (ahlul kitab). Rasulullah Sallallahu “alaihi wasllam menggambarkan tentang mereka :”Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhalah” . Kasus seperti ini menimpah pada peristiwa pembunuhanyang dilakukan oleh seorang khawarij terhadap Abdullah bin khabab dan budaknya yang telah hamil tua.

  1. Mereka adalah salah satu kaum yang masih sangat mudah umurnya dan memiliki akal yang buruk.Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasllam menyebut mereka dengan kata-kata “Hadatsatusinin”(umurnya masih muda) dan safahatul hilm (memiliki akal yang buruk). Akibat dari kondisi mereka yang seperti itu akhirnya mereka bertindak lebih mementingkan dirinya daripada orang lain,mendahulukan pendapat nafsunya dari pada wahyu dan sunnah, meyakini bahwa diri mereka lebih benar dan berhak ketimbang imam mereka. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah cepat mengkafirkan orang lain karena perbedaan yang amat remeh.

  1. Mereka adalah suatu kaum yang cepat memfonis kata kafirkepada setiap orang yang tidak sependapat dengan prinsip mereka .Yang demikian itu dikarenakan mereka adalah suatu kaum yang sangat lemah terhadap masalah fiqih dan tidak memiliki ilmu yang cukup dalam memahami agama. Merekasering meletakan nash-nash Al-qur’an dan sunnah tidak pada tempatnya. Ayat yang seharusnya ditujukan kepada orang-orang kafir ahlul kitab mereka tujukan kapada kaum muslimin. Itulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam bahwa meraka adalah kaum yang sangat rajin membaca Al-qur’an, namun bacaan mereka hanya samp[ai pada kerongkongan mereka. Maksudnya bahwa apa yang mereka baca sama sekali tidak memberikan faidah bgi mereka.

  1. Tampil dengan penampilan orang-orang saleh, banyak ibadah –seperti sholat dan puasa-, bekas sujud,kebiasaan menyingsingkan pakaian dan sayunya wajah mereka karena banyak bergadang. Banyak diantara mereka yang kelihatan wara’(namun tidak dengan pemahaman yang benar,jujur dan zuhud disertai sikap berlebih-lebihan dalam agama- sebagaimana yang telah disebutkan oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wasllam “Kalian akan menganggap kurang shalat kalian dibandingkan shalat mereka”

FIRQAH KHAWARIJ : FIRQAH PERTAMA DALAM SEJARAH ISLAM

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Usman Radhiallahu ‘anhum, semua perselisihan yang terjadi tidak memunculkan perpecahan dan firqah (kelompok). Semua perselisihan yang terjadi bisa diakhiri dengan ijma’ (kesepakatan), mengambil pendapat yang mayoritas, mengamalkan pendapat imam atau Tokoh atau masing-masing pihak mengambil ijtihadnya tetapi memberi toleransi terhadap pihak lain, sehingga tidak sampai menimbulkan perpecahan atau pemisahan diri dari jama’ah kaum muslimin dan pemerintahannya.

Tatkala Utsman Radhiallahu ‘anhu terbunuh, terjadilah fitnah yangpada akhirnya memicu pecahnya perang jamal dan perang siffin. Ketika itulah muncul firqah (perpecahan) pertama dari kaum muslimin dan imamnya yaitu dengan munculnya kelompok Khawarij dan kelompok Syi’ah pada tahun 37 dan 38 Hijriyah. Kedua firqah tersebut muncul dari tengah-tengah fitnah dan berasal dari bani yang sama, yaitu Saba’iyyah. Meskipun diantara keduanya memiliki perbedaan –perbedaan yang mendasar dalm hal prinsip dasar pendapat dan sikap. Khawarij bisa muncul di sepanjang masa, bahkan betul-betul akan muncul pada akhir zaman, seperti telah diberitakan oleh Rasulullah Shalllahu ‘alaihi wasallam :

( سيخرج قوم في آخر الزمان أحداث الأسنان سفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، لا يجاوز ايمانهم حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، فأينما لقيتموهم فاقتلوهم فان في قتلهم أجرا لمن قتلهم يوم القيامة)

“Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang usianya rata-rata masih muda dan sedikit ilmunya. Perkataan mereka adalah sebaik-baik perkataan manusia, namun tidaklah keinginan mereka melampaui tenggorokan. Mereka terlepas dari agama sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya, maka dimana saja kalian menjumpai mereka bunuhlah! Karena itu mendapat pahala di hari qiamat”. (HR. Bukhari Muslim).

Khawarij generasi awal bukan termasuk ahli kalam (filsafat) menurut makna istilah, namun mereka adalah ahli jidal (debat) dan khusumah (suka berselisih). Dalam tahap ini perkataa-perkataan khawarij tampak jauh dari pengaruh filsafat (kalam), penuhanan akal dan takwil (menyimpangkan makna asal kepada makna lain tanpa dalil). Hal tersebut baru tampak pada Khawarij setelah munculnya Mu’tazilah dan ahli kalam dari kalangan Syi’ah.

Beberapa I’tikad kaum khawarij yang bertentangan dengan ahli sunnah:

1. Mereka mengakui kekhalifahan Abu bakar,Umar dan Usman. Namun untuk kekhalifahan Usman mereka hanuya mengakui sebahagiannya saja,selebihnya telah menganggap bahwa Utsman kafir.Terhadap khalifah Ali bin Abi Tholib, mereka menuduh Ali dengan tuduhan melakukan dosa besar karena menerima persoalan tahkim.Bahkan ada diantara mereka yang mengkafirkan khalifah Ali.

2. Kaum khawarij mengutuk ummul mukminin Aisyah ra karena terlihat ikut dalam perang jamal, demikian juga kepada dua sahabat lainnya yaitu Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Demikian pula mereka mengkafrkan Abu masa Al- Asy’ri dan Amru bin ‘Ash dari delegasi mu’awwiyah dari peristiwa tahkim tersebut.

3. Mereka juga menganggap kafir semua sahabat yang terlibat dalam perang jamal dan Shiffin dari kelompok ‘Aisyah dan Mu’awwiyah. Karena setiap yang diperangi oleh amirul mukminin yang sah adalah kafir. Demikian pndapat Khawarij.

4. Mereka menganggap bahwa amal ibadah sehari-hari seperti sholat, puasa, zakat maupun lainnya adalah rukun iman. Dengan demikian barang siapa yang meninggalkan salh satunya adalah kafir.Wal hasil bahwa setiap dosa besar yang dilakukan oleh seseorang muslim baik berbentuk dilanggarnya suatu larangan atau ditinggalkannya suatu kewajiban

5. maka orang muslim tersebut telah kafir.

B. SYI’AH

Sejarah pertumbuhan dan perkembangannya

Syi;ah merupakan mazhab politik yang pertama kali mucul dalam kancah perpecahan umat islam. Sekte ini muncul dan semakin nampak pada masa khalifa usman telah terbunuh. Para ahli sejarah banyak menyimpulkan bahwa pencetus dari timbulnya sekte ini adalah seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’, seorang pendeta Yahudi di Yaman yang berpura=pura masuk islam dengan tujuan untuk menghancurkan islam dari dalam. Abdulah bin Saba’ merengek dihadapan khalifah Utsman untuk diberikan jabatan atas keislamannya,namun beliua menolak.Sejak itulah dendam Abdulah bin Saba’ kepada Utsman semakin memuncak.

Langkah politiknya dimulai dengan adanya demonstrasi penuntutan agar khalifah Utsman diturunkan dari jabatannya dengan siasat mengedepankan sahabat Ali sebagai penggantinya.Beberapa segelintir kaum muslimin terjebak dalam perangkap ini,sehingga mereka mendukung gerakan ini.Sahabat Ali melihat gelagat jahat dari makan yang dibuat oleh Abdulah bin Saba’,sehingga beliau membuat langkah-langkahdefensif untuk membendung gerakannya.Namun apa yang diharapkan oleh Abdulah bin Saba’ tercapailah sudah dengan terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan yang semua itu tidak terlepas dari rekayasa Abdulah bin Saba’. Lalu naiklah Khalifah ali menjadi Amirul mukminin menggantikan utsman bin Affan.Namun setelah naiknya Ali menjadi khalifah,Abdulah bin Saba’ membuat strategi baru untuk melampiaskan dendamnya ; memecah belah umat islam dan menghancurkan mereka.

Banyak sikap aneh dan pemahaman sesat Abdulah bin Saba’ yang berkembang sepeninggal Ali bin Abi Tholib. Diantaranya khalifah Ali masih hidup dan akan kembali lagi kedunia untuk menuntut balas atas khilafah yang dirampas secara tidak sah oleh ketiga khalifah sebelumnya. Ia juga berpendapat bahwa Ali adalah tuhan yang harus disembah, kadang ia juga mengatakan bahwa Ali adalah Nabi yang sebenarnya dan bukan Muhammad. Yang lebih parah lagi cukup banyak kaum muslimin yang lemah imannya terperangkap pada jebakan Abdulah bin Saba’ ini.Hingga akhirnya mereka mencintai Ali diluar batas wajar. Ada yang menuhankan beliau, ada yang mendewakan beliau dan ada pula yang hanyasebatas mendudukan beliau diatas ketiga sahabai sebelumnya .

Fitnah Abdulah bin Saba’ bukan hanya sampai kepada penuhanan Ali bin Abi Thholib saja, namun juga meluas hinhga pada keturunan sang khalifah tersebut. Hingga muncullah istilah Syi’ah Itna Asyariyah,yaitu sekte syi’ah yang menjadikan 12 keturunan Ali sebagai imam mereka yang ma’sum. Ada pula yang hanya mengambil7 imam dari 12 imam tersebut.

Demikianlah perkembangan syi’ah, sebuah partai yang bernuansa politik namun lama kelamaan berkembang menjadi sebuah sekte yang lebih banyak perbuatan aqidah dan syari’ah. Bahkan sekte tersebut telah berani memunculkan satu mazhab fiqih mereka yang terkenal, yaitu mazhab Ja’fariyah.

Beberapa I’tiqad kaum syi’ah yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah.

1. Adanya wasiat tentang adanya amanat khalifah yang diberikan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasllam kepada Ali bi Abi Tholib radhiayallahu ‘anhu sebelum meninggalnya beliau. Dengan anggapan seprti itu akhirnya kelompok syi’ah menganggap bahwa Khalifah Ar-rasyidin sebelum Ali telah merampas hak khilafah yang seharusnya dimiliki oleh Ali ra.

2. Mereka hanya mengartikan Ahlul bait sebatas pada keturunan Ali dan Fatimah Radhiayallahu ‘anhuma. Lebih daripada itu mereka menolak bila seluruh Ummul Mukminin dimasukan dalam kelompok Ahlul Bait.

3. Tentang persoalan imamah, mereka hanya menerima imamah tersebut dari keturunan Ali bin Abi Tholib dan Fatimah. Dan imam tersebut harus ma’sum dari segala jenis dosa. Mereka juga menganggap bahwa percaya kepada imam termasuk bagian dari rukun iman yang wajb diyakini. Lebih dari itu mereka menganggap bahwa imam-imam tersebut lebih mulia dari seluruh manusia bahkan lebih mulia dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya radhiayallahu anhum.

4. Kaum syi’ah telah mengkafirkan ketiga kahalifah sebelumnya. Bahkan mereka juga mengkafirkan sebagian besar para sahabat, kecuali hanya segelintir saja yang tidak mereka kafirkan.

5. Mereka menganggap bahwa imam yang kedua belas yang mereka sebut dengan Imam Mahdi, kini sedang bersembunyi, dan suatu ketika akan datang kedunia dan memenuhinya dengankeadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezholiman.

6. Mereka memiliki mushaf yang berbeda dengan mushaf Utsmani yang merupakan mushaf seluruh kaum muslimin. Kalaulah mereka hari ini menunjukan mushaf mereka dalam bentuk sebagaimana yang dimiliki oleh kaum muslimin lainnya,maka tindakan itu merupakan taqiyah untuk mengelabuhi lawan-lawan politiknya.

7. Mereka meyakini bolehnya kawan mut’ah(kawin kntrak), yang menurut pemahaman ahlus sunnah hukum kawin mt’ah telah dimansukh dengan syariat yang datang setelahnya. Ahlus sunnah menganggap bahwa perbuatan nikah mut’ah sama hukumnya dengan zina.

8. Mereka hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahlul bait dan imam-imam syi’ah sja.Lebih dari itu mereka menolak hadits yang diriwayatkan oleh imam-imam hadits yang telah masyhur.

9. Mereka memiliki I’tiqad taqiyah, yaitu sikap menyembunyikan paham yang sebenarnya dan melahirkan kepada selain kelompok mereka apa yang sebsnarnya tidak mereka yakini.Sikap taqiyah ini merupakan ajaran wajib bagi mereka bahkan merupakan agama syi’ah itu sendiri.

10. Diantara mereka ada yang beranggapan bahwa hukum-hukum agama berupa syari’at hanya diperuntukan bagi umum. Sedang imam-imam mereka yang ma’sum tidak lagi diharuskan untuk mengerjakan syari’at.

11. Mereka memiliki I’tikad raj’ah, yaitu kembalinya Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasllam, Ali bi Abi Tholib, Hasan dan Husein kealam dunia serta imam-imam lainnya. Mereka datang untuk menghukum musuh-musuh yang merampas hak khilafah, dalam hal ini adalah tiga sahabat yang menjadi khulafur rasyidin.

12. Mereka juga menganut paham wihdatuli wujud, yaitu bersatunya zat imam mereka dengan Allah ‘Azza wa Jallah. Subhanallah ‘amma yaqulun.

C. MU’TAZILAH

Sejarah Pertumbuhan dan Perkambangannyan

Kaum mu’tazilah merupakan sekelompok menusia yang pernah menggemparkan dunia islam selama lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang menghebohkan, selama itu pula kelompok ini telah menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para ulama Ahlus sunnah.

Tentang awalnya munculnya sekte ini banyak diperslisihlan oleh para ulama. Namun sebutan Mu’tazilah itu lebih banyak ditujukan kepada dua tokoh yang kontra versial yang bernama Washil bin ‘atha dan ‘Amr bin Ubaid. Keduanya adalah murid dari seorang Sayyidut Tabi’in di wilayah Bashrah yang bernama Hasan Al Bashri. Kemunculan Mu’tazilah ini bermula dari sebuah lontaran ketidak setujuan dari Washil bin’atha atas pendapat Hasan al Bashri yang mengatakan bahwa seorang muslim yang melakukan kefasikan (dosa besar), maka diakhirar nanti akan disiksa lebih dahulu sesuai dengan dosanya, kemudian akan dimasukkan kedalam surga sebagai rahmat Allah ‘azza wa jalla atasnya. Dia menyangkal pendapat tersebut, sebaliknya ia mengatakan bahwa kedudukan orang mukminyang fasik tersebut tidak lagi mukmin dan tidak juga kafir. Sehingga kedudukannya tidak disurga dan juga tidak di neraka,namun dia berada dalam satu posisi antara iamn dan kufur, antara surga dan neraka (al manzilah baina manzilataini). Ketika Hasan Al Basri mendengar kebid’ahan mereka, maka dia mengusirnya dari majelis. Lalu Washil bi ‘atha beri’tizal(memisahkan diri) kesalah satu sudut masjid basrah yang kemudian diikuti oleh para sahabatnya yang bernama Amr bin Ubaid. Maka pada saat itu orang –orang menyebut mereka telah beri’tizal (memisahkan diri/ keluar) dari pendapat ummat. (lihat; al; Farqu bainal Firaq, Al Baghdadi : 78)

Peristiwa yang paling menggemparkan dalam sejarah perjalanan mu’tazilahini adalah peristiwa Al-Qur’an adalah makhluk. Sebuah peristiwa yang telah menelan ribuan korban dari kaum muslimin, yaitu mereka yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Mereka tetap bersikukuh dengan pendapat mereka, bahwa Al-qr’an adalah kalamullah sebagaimana yang telah dipahami oleh para salaf. Termasuk ulama yang menghadapi ujian berat dari peristiwa Al-qur’an adalah makhluk adalah Imam Syafi’I dan Imam Ahmad.

Paham Mu’tazilah

Abul Hasan Al Kayyat berkata dalam kitabnya Al intisar : “ Tidak seorangpun berhak mengaku sebagai penganut mu;tazilah sebelum ia mengakui Al Ushul Al Khamsah (lima dasar) yaitu ; at tauhid,al adl, al wa’duwal wa’iid, al manzilah baina manzilatain dan al amru bil ma’ruf wan nahyi an munkar. Secara singkat pengertian masing-masing dasar tersebut adalah sbb :

1. TAUHID, memiliki arti “Penetapan bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk”

2. Al Adl, memiliki arti “ pengingkaran terhadap takdir”, sebab seperti kata mereka- bahwa Allah tidak menciptakan keburukan dan tidak mentaqdirkanya, apabila Allah menciptakan keburukan, Kemudian Dia menyiksa manusia karena keburukan yang diciptakan-Nya, berarti Dia berbuat zholim. Sedang Allah adalah adil dan tidak berbuat zholim.

3. AL WA’DU WAL WA’IID (terlaksananya ancaman),maksudnya adalah apabila Allah mengancam sebagian hamba-Nya dengan siksaan, maka tidak boleh bagi Allah untuk tidak menyiksanya dan menyelisihi ancamannya, sebab Allah tidak mengingkari janji. Artinya –menurut mereka- Allah tidak memaafkan orang-orang yang dikehendakiNya dan tidak mengampuni dosa-dosa (selain syirik) bagi yang dikehendakinya. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah.

4. AL MANZILAH BAINA MANZILAHTAIN, artinya orang yang berbuat dosa besar berarti keluar dari iman tetapi tidak masuk kedalam kekufuran. Akan tetapi tidak masuk kedalam kekufuran. Akan tetapi ia berada didalam satu posisi antara dua keadaan 9Tidak mukmin dan tidak juga kafir).

5. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR, yaitu bahwa mereka wajib memerintahkan golongan selain mereka untuk melakukan apa yang mereka lakukan dan melarang selain golongan mereka apa yang dilarang bagi mereka.

Beberapa I’tiqad kaum mu’tazilah yang bertentangan dengan ahlus sunnah

1. Mereka berpendapat bahwa baik buruknya sesuatu ditentukan oleh akal dan dukan oleh syari’at. Dengan demikian dalam pandangan mereka akal menduduki kedudukan yang lebih tinggi daripada syari’at.

2. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak memiliki sifat. Apa yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sunnah berupa asma’ dan sifat Allah merupakan sekedar nama yang tidak memiliki pengaruh sedikitpun dari nama tersebut. Dengan demikian mereka menafikan adanya sifat-sifat tinggi yang mulia bagi Allah Azza wa Jallah.

3. Mereka berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ahlus sunnah berpendapat dan bersepakat bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan makhluk.

4. Mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar dari golongan mukmin, maka dia tidak lagi disebut mukmin namun juga tidak disebut kafir. Ahlus sunnah berpendapat bahwa seorang mukmin yang berbuat dosa besar, ia tetap mukmin yang berbuat kefasikan.

5. Mereka berpendapat bahwa Allah tidak dapat dilihat nanti pada hari kiamat (ketika didalam surga), karena hal itu akan menimbulkan pendapat seolah-olah Allah berada diatas surga atau allah dapat dilihat. Ahlus sunnah berpendapat bahwa orang-orang beriman yang telah masuk surga akan dapat melihat Allah .

وجوه يومئذ نا ضرة (22) الي ربها نا ظرة (23)

(22).Wajah (orang-orang mumin ) pada hari itu berseri-seri. (23). Kepada tuhannyalah mereka melihat.

6. Mereka tidak meyakini bahwa nabi Muhammad mi’raj dengan ruh dan jasadnya.

7. Mereka berpendapat bahwa manusialah yang menjadikan pekerjannya, dan Allah sama sekalitidak ikut campur dalam perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

8. Mereka tidak meyakini adanya mizan,hisab, shirat, al haudh dan syafaat pada hari kiamat.

D. MURJI’AH

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya

Golongan ini muncul ditengah-tengah memuncaknya perdebatan mengenai pelaku dosa besar : Apakah ia kafir atau mukmin ? menurut khawarij ia telah kafir, sementara jumhur ulama ia hanya melakukan kegfasikan dan akan dihukium sesuai dengan dosanya.sedangkan pendapat mu’tazilah ia berada dalam satu posisidiantara dua posisi.

Namun bibit-bibit timbulnya sekte murji’ah ini telah muncul pada zaman sahabat, terutama setelah syahidnyaUtsman bin Affan karena terbunuh secara zholim. Kemudian pada zaman Ali terjadi peperangan antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Ali melawan Aisyah pada perang jamal dan dengan Mu’awwaiyah pada perang siffin. Pertikaian antara kaum muslimin ini yang menjadikan beberapa sahabat mengundurkan diri dari perpecahan tersebut. Mereka tidak memihak kepada Ali namun juga tidak mendukung lawan politiknya. Diantara mereka adalah Sa’ad bi Abi Waqqas, Abi Bakrah, Usman bi Zaid, Abdullah bin Umar dll. Mereka memilih jalan selamat dengan menghindar dari semua bentuk pertikaian ini.

Mereka menangguhkan hukum tentang peperangan yang terjadi antara Ali dan Mu’awwaiyyah sampai hari kiamat. Mereka tidak menetapkan hukum kelompok mana yang paling benar diantara kedua kelompok yang bertikai. Secara zahir mereka melakukan irja’ (penangguhan sesuatu berupa hukum) sehingga mereka terkenal dengan sebutan ahlu irja’ atau murji’ah.

Jumhur ulama membenarkan sikap-sikap mereka yang sangat khawatir menghukumi para sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasllam tentang benar atau salahnya. Sikap seperti itu tidak diragukan lagi kebenarannya, karena mungkin saja dosa-dosa mereka ada yang telah diampuni Allah. Namun pada perkembangannya , setelah kelompok ini wafat, muncull penganut paham yang tidak sekedar bersikap pasif terhadap pelaku dosa besar atau peperangan antara sahabat tersebut, tapi lebih dari itu mereka menetapkan bahwa dosa tidak membahayakan iman. Mereka berkata bahwa iman adalah pengakuan dan pembenaran, keyakinan dan pengetahuan, perbuatan maksiat tidak merusak hakikat iman . Iman terpisah dari perbuatan. Diantara mereka ada yang bersikap ekstrim lagi, dengan beranggapan bahwa iman adalah keyakinan didalam hatisaja, tidak lebih dari itu. Dengan demikian seorang mukmin yang menyatakan kekafiran dengan lidahnya , menyembah berhala, sujud kepada matahari atau bergabung dengan yahudi dan nashrani, lalu ia mati dalam keadaan yang seperti itu, maka ia tetap seorang mukmin yang sempurna imannyadan termasuk Ahlu jannah.

Demikian perkembangan sekte murji’ah ini dari masa kemasa. Ia muncul dari kelompok manusia terbaik yang berusaha menghindarkan diri dari pertikaian dan perpecahan, namun berakhir dengan munculnya orang-orang bodoh yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya.

Diantara ulama ada yang membagi sekte murji’ah ini dalam dua sekte, Yaitu murji’ah as sunnah dan murji’ah al bid’ah. Namun langkah baik dari nin semua alangkah baiknya jika para ulama islam tersebut tidak disebut dengan istilah murji’ah, meskipun dengan istilah murji’ah as sunnah. Dengan demikian para ahlus sunnah itu tidak disamakan dengan murji’ah dengan membolehkan segala-galanya.

Beberapa I’tikad murji’ah yang bertentangan dengan as sunnah

1. Keyakinan mereka bahwa iman itu hanyalah keyakinan didalam hati, dan bukan ucapan dengan lisan atau amal perbuatan dengan anggota badan. Dengan demikian mereka memisahkan antara iaman dengan perbuatan.

2. Keyakinan irja’ yaitu sikap menangguhkan atas dosa yang dilakukan oleh seorang muslim. Dengan demikian mereka tidak membenarkan tindakan hudud di dunia karena mereka beranggapan bahwa dosa-daso tersebut hanya Allah yang mengetahui hukumnya nanti di akhirat.

3. I’tikad mereka bwhwa maksiat yang dilakukan oleh seorang mukmin itu tidak membahayakan imannya sebagaimana perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang kafir yang tidak akan merubah kekafirannya

E. JABARIYAH

Sejarah pertumbuhan dan perkembangannya

Jabariyah merupakan kelompok yang menyatakan tentang Al jabr (pemaksaan pada sesuatu) dalam masalah qadar. Penulis kitab Al Maqalat bahwa perkembangan jabariyah dikaitkan dengan munculnya Jahm bin Shafwan. Yaitu dikota Tirmidz pada sekitar abad ke-2 Hijriah.

Timbulnya jabariyah mendekati awal munculnya mu’tazilah. Dan kemungkinan pergulatan aqidah dimasa inilah yang menimbulkan munculnya pemahaman yang berlebihan dalam masalah qadar.

Jabariyah terbagi dalam dua kelompok utama ;

1. Jabariyah murni yang tidak membolehkan mempertalikan perbuatan apapun kepada manusia, bahkan kekuatan untuk berbuat sekalipun.

2. Jabariyah moderat, yang mengakui bahwa manusia memiliki kekuatan untuk berbuat, tapi berpendirian bahwa hal ini merupakan suatu kekuatan yang tidak efektif (tanpa

Kekuatan Allah).

Pada intinya paham jabariyah adalah paham yang menyatakan bahwa seluruh tandak tanduk manusia adalah hak mutlak bagi Allah, manusia tidak memiliki kekuatan sedikitpun dalam dalam perbuatannya. Ia ibarat selembar buluhyang ditiup oleh angin, manusia adalah sebuah tulang yang di balut daging yang semua polahnya dipaksa oleh Allah, seluruh perbuatannya merupakan takdir yang telah tetapkan tanpa ada peran sdari mereka.

Beberapa I’tiqad jabariyah yang bertentangan dengan ahlus sunnah.

1. Mereka menganggap bahwa Al-qur’an adalah makhluk.

2. Mereka menolak nama dan sifat Allah (ta’thil). Dalam hal ini Ja’ad bin Dirham (guru dariJahm bin Shafwan) yang pertama kali mencetuskan teori ini.

3. Tentang teori qadar, kaum jabariyah memandang bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk berkehendak. Seluruh perbuatannya adalah hak mutlak Allah yang telah ditetapkannya. Kalaulah perbuatan-perbuatannya dinisbatkan kepada manusia, maka itu hanya sekedar simbolik belaka.

SUMBER – SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH

Secara garis besar bahwa sumber-sumber pengambilan aqidah yang selamat hanya ada dua, yaitu Al-qur’an dan Sunnah, sebagaimana yang telah disepakati oleh ulama salaf. Namun pada perkembangannya, peran akal yang sehatpun menjadi sandaran dalam pengambilan sumber aqidah.

Kaitannya dengan akal sebagai salah satu sumber atau bagian dari pengambilan aqidah islam, maka ada beberapa ketentuan yang harus diberlakukan :

1. Syariat haruds didahulukan daripada akal, karena syari’at bersifat ma’sum sedand syari’at bersifat tidak ma’sum.

2. apa yang benar menurut akal, pasti tidak bertentangan dengan hukum-hukum syari’at.

3. Yang benar menurut pemikiran akal adalah yang benar menurut ketentuan syari’at dan selalu sejalan dengan syari’at itu sendiri.

4. Yang salah dari pemikiran akal adalah bertentangan dengan syari’at.

5. Balasan berupa pahala dan dosa seluruhnya ditentukan oleh syari’at dan bukan oleh akal.

6. Penentuan hukum yang terperinci adalah hak mutlak bagi syari’at dan bukan hak bagi akal.

7. Mubah adalah hukum dasar segala sesuatu sebelum datangnya hukum syari’at.

8. Kadang-kadang terdapat muatan syari’at yang membingungkan akal, namun hal itu bukan berarti menolak atau bertentangan dengan akal.

9. Tidak ada kewajiban tertentu bagi Allah yang di tentukan oleh akal. Karena Allah memiliki sifat maha kuasa untuk berbuat apa saja yang di kehendakiNya.

10. Akal tidak dapat menentukan hukum-hukum tertentu sebelum turunnya wahyu. Meski sacara umum akal mampu untuk mengetahui mana yamg baik dan mana yang buruk.

Maraji’ :

Ø Al Mizan

Ø Kitab Tauhid, Syaikh Dr Shalih Fauzan

Ø Al Madkhal Lidirasatil Aqidah, Dr Ibrahim al Buraikan

Ø Majalah As sunnah

Ø Mizanul muslim, Muqimuddin Shalih


sumber

Thursday, June 29

ahlussunnah wal jama`ah tidak berpecah belah

di kutip dari:
Pandangan tajam terhadap politik
karya ; syaikh abdul malik ramadhan al jazairy
penterjemah ( Abu Ihsan Al-atsari ) hal 64-65

Satu dari sekian banyak mutiara hikmah yang di tuturkan oleh Abul Muzhaffar As-Sam`aani adalah :
"Salah satu bukti keberadaan ahlu hadist di atas al-Haq ialah sekiaranya anda menelaah kitab-kitab merekwa dari awal sampai akhirmyang terdahulu maupun yang sekarang,dari berbagai negeri dan zaman,meski tempat mereka berjauhan dan tiap-tiap mereka berdomisili ditempatnya masing-masing,niscaya anda dapati dalam menjelaskan masalah aqidah mereka satu jalur dan satu bentuk!.Mereka berjalan diatas satu pedoman,tidak menyimpang darinya dan tidak berbelok!Perkataan mereka satu,referensinya juga satu,tidak anda dapati perselisihan dan perpecahan di dalamnya meskippun dalam kadar yang sedikit.
Bahkan sekiranya anda kumpulkan seluruh perkataan-perkataan mereka dan perkataan yang mereka nukil dari kaum salaf,niscaya anda dapati seolah-olah mereka menjelma dari hati yang satu dan berbicara dengan lisan yang satu!Lalu adakah bukti yang lebih terang dari pada ini!Allah berfirman:
(artinya) " Maka apakah mereka tidak memperhatika al-Qur`an?Kalau kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah,tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS;An-Nisaa`:82)

Dan Allah berfirman:
(artinya)"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,dan janganlah kamu bercerai-berai (QS;Al-Maidah:103)

Sebaliknya,jika anda lihat ahli hawa dan bid`ah,niscaya akan anda dapati mereka saling berpecah belah dan berselisih atau bergolong-golongan dan ber-hizb ria.Jarang sekali anda dapati dua orang dari mereka yang berada diatas satu prinsip aqidah!Mereka saling memvonis bid`ah satu sama lainnya,bahkan lebih jelek lagi,mereka juga saling memvonis kafir!Seorang anak mengkafirkan ayahnya,mengkafirkan saudaranya,mengkafirkan tetangganya!Anda dapati mereka selalu bersilang pendapat,daling membenci dan berselisih.Umur mereka habis sementara mereka belum juga bersepakat!
Allah berfirman:
(artinya) :"Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti (QS;59:14 )*


* nukilan kitab Al-Hujjah karya Qawwaamus Sunnah (II/225)

Wednesday, April 5

salafi adalah sebuah golongan???

Apakah Orang Yang Dinamakan Salafi Dianggap Sebagai Orang Yang Membentuk Golongan ?

Rabu, 5 April 2006 11:43:38 WIB

Kategori : Manhaj
APAKAH ORANG YANG DINAMAKAN SALAFI DIANGGAP SEBAGAI ORANG YANG MEMBENTUK GOLONGAN (MUTAHAZZIB)?

dari www.almanhaj.or.id


OlehSyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-FauzanPertanyaanSyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah orang yang dinamakan salafi dianggap sebagai orang yang membentuk golongan/mutahazzib?JawabanPenamaan salafi, bila sebenarnya (bukan sekedar nama belaka) adalah tidak mengapa[1]. Yang tidak boleh bila hanya dakwaan saja ... Oleh karenanya tidak boleh memakai nama salafiyah, bila tidak diatas manhaj salaf. Sebagaimana contoh, Al-Asy誕riyah (pengikut manhaj Al-Asy誕ri), mereka mengatakan kami Ahlus Sunnah wal Jama誕h. Bagi mereka, penamaan (klaim) semacam itu tidak bisa, sebab mereka tidak diatas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama誕h. Begitu juga dengan yang selainnya.

Ibarat syair:Semua mengaku ada hubungan (cinta) dengan Laila.Namun Laila tidak mengakui ada hubungan (cinta) dengan merekaOrang-orang yang mengaku bahwa dirinya di atas manhaj Ahlu Sunnah wal Jama誕h, haruslah mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama誕h dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya.

Sungguh hal yang tidak mungkin seseorang menyatukan antara biawak dan ikan paus, atau antara binatang melata yang ada di padang luas dengan binatang melata yang ada di laut, atau antara api dengan air dalam satu wadah. Yang jelas orang yang mengaku di atas manhaj salaf harus membedakan dirinya dengan yang lain.[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah 羨n-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]

oote Note[1]. Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa (4/140) :Tidak ada aib atas orang menampakkan madzhab salaf, menghubungkan dan serta menisbatkan diri kepadanya. Bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan ittifaq (kesepakatan). Sesungguhnya madzhab salaf adalah madzhab yang benar.

Saya (Abu Abdillah) berkata : Perhatikan saudaraku pembaca, perkataan Syaikh Al-Islam yang beliau ucapkan sekitar abad 8 hijriyah seakan-akan beliau membantah sebagian orang pada saat ini, yang menisbatkan dirinya seagai ahli ilmu yang berkata: 腺arangsiapa yang mewajibkan seseorang -dengan kewajiban yang sebenarnya- bahwa dia harus menjadi ikhwani (pengikut IM), atau Salafi, atau Sururi, atau Tablighi (pengikut Jama誕h Tabligh), sesunguhnya dia diperintah untuk bertaubat (dari sikapnya). Jika tidak bertaubat maka dibunuh!・ Dia katakan dalam kaset ketika berdialog dengan para pemuda.

Saya (Abu Abdillah) berkata : 全ubhanahallah ! Bagaimana dia membolehkan dirinya menggabungkan antara manhaj salaf yang benar dengan manhaj-manhaj dan kelompok-kelompok bid誕h yang sesat dan bathil ! Pertanyaan kami untuk orang yang hidup di negeri tauhid ini dan mempunyai karya untuk meraih gelas Magister : 遷ika bukan manhaj salaf, lalu harus manhaj apa ..?・br /> Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz 卜ufti Saudi- ketika ditanya : 羨pa yang anda katakan terhadap orang yang menamakan dirinya Salafi atau Atsari, apakah itu merupakan penyucian ?
Maka beliau hafizhahullah menjawab : Apabila benar dia itu pengikut atsar atau pengikut manhaj salaf, tidak apa-apa. Seperti yang ada pada salaf dikatakan : Fulan Salafi, Fulan Atsari, merupakan pembersihan atas dirinya dari penyimpangan-penyimpangan. Maka pembersihan itu adalah wajib. [Dinukil dari rekaman ceramah beliau dengan judul 滴ak Seorang Muslim・pada tanggal 16/1/1413H di Thaif.]

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : 羨pabila dikatakan As-Salaf atau As-Salafiyun atau As-Salafiyah, ini menisbatkan kepada Salaf As-Shalih, yakni seluruh sahabat Radhiyallahu 疎nhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan tanpa condong kepada hawa nafsuinya... Dan orang-orang yang tetap diatas manhaj Nabi Shallallahu 疎laihi wa sallam, mereka dinisbatkan kepada Salaf Ash-Shalih. Kepada mereka ditakan As-Salaf, As-Salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan Salafi, dan itu wajib baginya. Karena sesungguhnya lafazh Salaf adalah Salafu Ash-Shalih. Lafazh ini secara mutlak, yakni setiap orang yang berteladan kepada sahabat Radhiyallahu 疎nhum.

Walaupun dia hidup pada zaman kita ini, harus seperti ini, inilah kalimat ahlu ilmi, Itulah penisbatan dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Bukan merupakan formalitas dan tidak terpisah sedikitpun dari generasi yang pertama, bahkan itu penisbatan dari mereka dan kembali kepada mereka. Sedangkan orang yang menyelisihi As-Salaf, hanya berdasarkan nama atau formalitas belaka, maka jangan. Walaupun mereka hidup sezaman dengan para Salafu Al-Ummah dan setelah mereka・

[Dinukil dari Hukmu Al-Intima hal. 36]Saya (Abu Abdillah) berkata ; 善enisbatan ini terdapat dalam kitab-kitab biografi dan sejarah. Imam Adz-Dzahabi berkata tentang biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani, 船ia mempunyai dien yang baik yang salafi・ Lihat Mu男am Asy-Syuyukh (2/280). Beliau juga berkata tentang biografi Ahmad bin Ahmad bin Nu知an Al-Maqdisi, 船ia di atas akidah Salaf・ Lihat Mu男am Asy-Syuyukh (1/34).Jadi penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang harus, sehingga jelaslah bagi Salafi (pengikut salaf) terhadap al-haq dari perkara yang tersembunyi di belakang mereka. Oleh karena itu tidak terjadi kesamaran bagi orang yang ingin berteladan dan tumbuh di atas manhaj mereka.

Wednesday, February 22

sesungguhnya islam yang akan datang adalah islam sunni salafi

SESUNGGUHNYA ISLAM YANG AKAN DATANG ADALAH ISLAM SUNNI SALAFI YANG MEMPERSATUKAN DAN TIDAK MEMECAH BELAH

OlehSyaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilali

salinan dari www.almanhaj.or.id

Kata Pengantar.Artikel ini, diambil dari kata sambutan Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, murid kepercayaan Syaikh Muhaddits Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, dalam acara Ad-Daurah asy-Syariyah fi al-Masa'il al-'Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan di Ma'had Ali al-Irsyad Surabaya tanggal 15-18 Dzul Qa'dah 1421H, yang diprakarsai oleh Al-Ustadz Abdur Rahman at-Tamimi dan Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dibantu oleh beberapa da'i salafi lainnya.

Alhamdulillah daurah tersebut dihadiri dan diikuti tidak kurang dari empat ratusan da'i salafi dan penuntut ilmu di Indonesia.Kemudian, kata sambutan Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali sengaja kami salin ulang dalam website almanhaj dengan judul "Sesungguhnya Islam Yang Akan Datang Adalah Islam Sunni Salafi Yang Mempersatukan Tidak Memecah Belah", besar harapan kami, ini adalah sebuah nasehat yang dapat diambil manfaat dan faedahnya oleh kita semua._

Saudara-saudara, saudara-saudara yang tercinta ! Sesungguhnya ini betul-betul merupakan pertemuan mulia. Yaitu pada hari yang diberkahi ini, hari sayidul Ayyam, hari Jum'at, kami bertemu dengan saudara-saudara kami. Kami dikumpulkan dengan mereka oleh manhaj sunni salafi, manhaj yang mempersatukan dan tidak memecah belah, manhaj yang memperpadukan hati dan tidak menjadikannya berselisih.Oleh karena itu manhaj ini adalah manhaj Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Ahlu Sunnah, tidak mempunyai nama lain yang menjadikan mereka menonjol kecuali sunnah, tidak mempunyai bentuk lain yang menyebabkan mereka dikenal kecuali sunnah, dan .... (ada kata-kata yang terhapus..) kecuali dengan sunnah.

Hati-hati mereka bersatu di atas sunnah, hati-hati mereka mencintai sunnah. Mereka berjanji untuk membela Sunnah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.Ya, wahai saudara-sauadaraku, sesungguhnya kita berada di zaman asing. Ya, wahai saudara-saudara yang kucintai, sesungguhnya kita berada di zaman yang dekat, akan tetapi perkara itu tidak akan (dapat) berkata ....Sesungguhnya Islam pasti datang ... datang... dan datang. Islam pasti tersebar .... tersebar ... dan tersebar, seperti telah diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan telah dijanjikan di dalam Kitab-Nya, dan juga telah dijanjikan di dalam Sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mutawatir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai" [At-Taubah : 33]Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan dalam Kitab-Nya, bahwa Allah pasti memenangkan agama-Nya, pasti membenarkan nabi-Nya, pasti memenangkan golongan-Nya dan pasti akan menjadikan orang yang berjalan pada manhaj Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Khalifah/penguasa.Sesungguhnya Islam dimasa mendatang adalah Islam Sunni. Sesungguhnya Islam yang akan datang adalah Islam Salafi.

Sesungguhnya tegaknya kekhalifahan dan kemenangan yang kita tunggu-tunggu dan terus kita dengungkan, adalah kemenangan yang terjadi melalui tangan-tangan orang-orang itu, generasi-generasi orang-orang itu, generasi yang beriman kepada Kitab Allah, dan beriman kepada Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah, sesuai dengan pemahaman Abu Bakar, sesuai dengan pemahaman Umar, sesuai dengan pemahaman Utsman, sesuai dengan pemahaman Ali dan sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.

Renungkanlah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang berderajat hasan, yaitu hadits Hudzaifah, dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memeberitakan .... maka Nabi bersabda."Artinya : Adalah di tengah-tengah kamu (masa) kenabian sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada (masa) khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj (jalan) kenabian sampai pada (masa) yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Setelah itu akan ada kerajaan yang menggigit dengan kuat (berpegang pada sunnah) hingga pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Sesudah itu akan ada kerajaan yang sewenang-wenang sampai pada waktu yang dikehendaki oleh Allah adanya, kemudian Allah menghilangkannya manakala Dia berkehendak. Kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan berdasarkan Minhaj (jalan) kenabian. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam diam" [Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Lihat Silsilah Shahihah No. 5]

Ya, demikianlah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan tahapan-tahapan yang dilalui umat ini. Tahap kenabian, dan ini sudah berlalu dengan kematian nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian (tahap) khilafah yang berjalan berdasarkan sunnah Nabi, berjalan berdasarkan manhaj Nabi dan melangkah mengikuti langkah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Itulah dia Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan minhaj kenabian. Itulah dia Khilafah Abu Bakar, Khilafah Umar, Khilafah Utsman dan Khilafah Ali. Kemudian berputarlah roda Islam, lalu Allah memberikan kerajaan (kekuasaan)-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan saat itu adalah kerajaan yang menggigit (berpegang) kuat (pada sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam). Setelah itu berputar lagi roda Islam, maka berganti dengan kerajaan-kerajaan yang sewenang-wenang.

Sementara roda Islam akan terus berputar, dan kemudian akan ada Khilafah Rasyidah yang berjalan sesuai dengan minhaj kenabian.Renungkanlah, Khilafah Rasyidah yang akan ada di akhir zaman, persis seperti dengan Khilafah yang ada di awal zaman. Itulah dia Khilafah yang ditegakkan oleh orang-orang yang berada pada manhaj para Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.Bergembiralah anda sekalian, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, sesungguhnya saya melihat terbitnya fajar baru bagi dakwah ini, dakwah Salafiyah yang penuh berkah. Betapapun berbagai golongan melakukan tipudaya terhadapnya. Sekalipun berbagai firqah berupaya menerkamnya, mereka ingin menggulungnya. Tetapi Allah (niscaya) akan melaksanakan apa yang menjadi keputusan-Nya, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui. Sesunguhnya dakwah Salafiyah adalah dakwah yang dijaga oleh Allah dan Allah berjanji akan menolongnya. Akan tetapi kita seharusnya menjadi tentara dakwah salafiyah ini, tentara yang memenuhi seruan dakwah salafiyah. Kita (harus) memahami dakwah ini sebagaimana para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memahaminya.

Kita melaksanakan dakwah ini sebagaimana para Salafus Shalih melaksanakannya. Kita (sepenuhnya) percaya, seperti kepercayaan kita terhadap agama (Islam) bahwa masa depan (yang gemilang -pent) akan diraih oleh dakwah Salafiyah, sebab dakwah salafiyah adalah agama (Islam) itu sendiri.Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku tercinta, yang diharapkan dari anda sekalian adalah hendaknya anda sekalian menjadi singa-singa sunnah di negeri ini. Hendaknya anda sekalian menjadi macan-macan faham Salafus Shalih di negeri ini. Anda angkat kepala anda tinggi-tinggi, angkat suara anda keras-keras untuk (menyuarakan) dakwah menuju Kitab, Sunnah dan pemahaman Salaful Ummah. Jangan terperdaya oleh banyaknya orang-orang binasa. Dan jangan pula menjadi sedih karena sedikitnya orang-orang yang menempuh (jalan kebenaran).

Sebagaimana dikatakan oleh al-Fudhail bin Iyadh :"Kamu harus berpegang pada jalan-jalan petunjuk sekalipun sedikit jumlah penempuhnya. Dan jangan sekali-kali kamu menempuh jalan-jalan kesesatan sekalipun banyak jumlah orang-orang yang binasa menempuhnya".Sesungguhnya, apabila jumlah yang banyak, berpegang pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah serta pemahaman Salafus Shalih, sesungguhnya jumlah itu adalah kelompok yang selamat, firqah yang pasti akan diberi kemenangan dan golongan yang melalui tangan-tangan mereka akan terwujud kejayaan Islam.Saya berharap agar Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada anda semua untuk berjalan menempuh manhaj yang benar ini.

(Saya juga berharap kepada Allah) apabila saya lupa -tetapi saya tidak lupa- untuk mengarahkan rasa terima kasih saya, dan saya tambahkan suara saya pada suara saudara saya yang tercinta Ali (bin Hasan) -hafidzahullah- bahwa saya berterima kasih kepada para pengampu Ma'had Diniyah al-Irsyad di Surabaya, terutama al-akh Syaikh yang mulia Abdur Rahman at-Tamimi[1].Saya memohon kepada Allah agar Dia memberikan kesempurnaan kepada kami, kepadanya (Abdur Rahman at-Tamimi) dan kepada anda sekalian (dalam berpegang pada) al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah. Juga agar Allah memantapkan kita dijalan kebenaran ini hingga kita menemui-Nya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M hal. 39-40]

Foot Noote
[1]. Ustadz Abdur Rahman at-Tamimi adalah termasuk salah satu Panitia dan juga bertindak sebagai tuan rumah Daurah asy-Syar'iyah fi al-Masa'il al-'Aqadiyah wa al-Manhajiyah, yang diselenggarakan tanggal 15-18 Dzul Qa'dah 1421H di Ma'had Diniyah al-Irsyad Surabaya.